RUMAH REHAT, SOLUSI UNTUK MENCIPTAKAN RESILIENCE GENERATION

Prediksi pengguna media sosial di Indonesia di tahun 2045 akan mencapai 90%, adapun per Januari 2022 pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 61% atau mencapai 170 juta jiwa dari total penduduk 275 juta jiwa.[1]

Akselerasi pengguna internet secara luas juga terjadi akibat terjadinya pandemi Covid di Indonesia pada tahun 2020, dimana akhirnya terjadi double disruption. Masyarakat Indonesia secara tidak langsung dipaksa untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi dan berbagai macam perubahan perilaku sosial karena adanya pandemi seperti aktifitas bekerja, belajar dan mengajar secara daring.

Ketika Pandemi berlangsung masyarakat juga dianjurkan untuk berdiam diri di rumah sehingga membuat masyarakat banyak melakukan aktifitas di media sosial. Ada konsekuensi ketika penggunaan media sosial ini dilakukan secara berlebihan.

Penelitian dari University of Manchester mengungkap bahwa penggunaan media sosial berkontribusi terhadap kesehatan mental yang buruk di Indonesia.[2] Para peneliti mengatakan bahwa tingkat ketidaksetaraan yang tinggi di Indonesia yang disorot di media sosial telah menyebabkan kecemburuan dan kebencian. Hal itu terjadi saat orang lain melihat gambar yang diunggah ke media sosial dan menunjukkan kesan bahagia dan positif tentang bagaimana orang lain hidup.

Gangguan jiwa ringan yang bisa timbul karena keseringan bermain media sosial diantaranta:[3]

  • Sosial Climber, ketika seseorang selalu ingin tampil mewah guna menaikan strata sosialnya di dunia maya.
  • Narcissistic Personality disorder (NPD), para penderitanya biasanya memiliki ciri mengagumi dirinya sendiri secara berlebihan. Menganggap orang lain tidak lebih baik darinya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
  • Addiction, maksudnya ketika kecanduan bermain media sosial yang parah. Biasanya pengidap gangguan kejiwaan ini banyak terjadi pada anak-anak.
  • Fear of missing out (FOMO), gangguan kejiwaan karena takut tertinggal apa yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial atau selalui ingin mengikuti trend yang ada di media sosial.
  • Voyeurism, gangguan kejiwaan pada seseorang yang hobi mengintip orang lain. Dalam bahasa lain yaitu stalking, biasanya pengguna media sosial menggunakan fake akun untuk melakukannya.
  • Internet asperger syndrome, gangguan kejiwaan dimana seseorang bisa berubah sikap antara di dunia maya dan dunia nyata seperti mempunyai dua kepribadian yang berbeda.
  • Munchausen syndrome, seseorang yang gemar mengarang cerita penderitaan hidupnya di media sosial untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.

Disisi lain lantas bagaimana kondisi Kesehatan mental di Indonesia?

Dr.Celestinus Eigya Munthe, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza pada konferensi pers virtual, Rabu (6/10/2021). Mengungkapkan bahwa Sampai hari ini jumlah psikiater  hanya mempunyai 1.053 orang.  Artinya pelayanan psikiater di Indonesia sekitar 1:250.000  penduduk, sedangkan anjuran  WHO 1:30.000. Hal lain yang membuat kondisi Kesehatan mental di Indoneisa masih mengkhawatirkan diantaranya; stigma dan diskriminasi yang masih tinggi, sarana dan prasana yang juga masih sangat terbatas. Temuan lainnya, menyatakan hanya 27% masyarakat di tanah air yang pernah mengakses layanan kesehatan mental. Hal itu pun dilakukan dengan berbagai macam pertimbangan, 86% responden mempertimbangkan keterjangkauan biaya.[4]

Kesehatan mental dan kesejateraan harus sangat diperhatikan karena merupakan unsur penting dalam mengukur kualitas kesehatan seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Berdasarkan kondisi inilah, IDE Foundation berinisiatif dan menggagas Program Rumah Rehat yang diharapkan bisa menjadi solusi berbagai masalah kesehatan mental yang terjadi akibat digitalisasi. Gagasan program ini mempunyai visi “terciptanya Individu yang tangguh secara mental sehingga mampu mengenali kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup dan  mampu bekerja secara produktif di era digital, serta bersama-sama memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk kemajuan Indonesia” . Adapun misinya yaitu:

  • Meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan mental agar lepas dari stigma dan diskriminasi
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bijak dalam berdigital
  • Memberi dukungan kesehatan mental kepada masyarakat.
  • Menyediakan Ruang untuk pengembangan diri

Solusi yang diberikan melalui Rumah Rehat yaitu dengan membawa formulasi kegiatan 3E; Engagement, Empowerment, dan Experience. Keseluruhan kegitan ini merupakan hasil dari kajian dari Ide Foundation, yang merupakan pengembangan dari budaya Gotong Royong yang disesuaikan di era kemajuan digital, dan kesemuanya itu harus dilakukan secara bersamaan dalam rangka “Increasing Connectivity”.

IDE Foundation melalui Rumah Rehat berkomitmen untuk menciptakan resilience generation. Bagi kami generasi yang Tangguh adalah yang mempunyai kesadaran diri penuh, mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan serta dapat mengontrolnya. Dengan begitu seseorang akan dapat memaksimalkan potensi apa saja yang ada pada dirinya. Kehadiran Rumah Rehat akan sangat membantu masyarakat di tengah kondisi sekarang dimana internet sudah menjadi sebuah kebutuhan. Masyarakat perlu “beristirahat” sebentar dari aktifitas dunia maya dan belajar untuk mengenali dirinya sendiri sehingga lebih tangguh dalam menjalani kehidupan di era digital.

Maka dari itu IDE Foundation, melalui Rumah Rehat juga mengajak para filantropi dan atau para pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya kesehatan mental dan menjadikan generasi muda Indonesia yang tangguh. Ide Foundation sangat terbuka dengan berbagai macam bentuk Kerjasama, karena kami sadar untuk mencapai Indonesia yang lebih baik harus dilakukan secara bersama-sama.

 

Reference:

[1] Hot Suite

[2] sumber: International Journal of Mental Health and Addiction “A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia”.

[3] sumber: https://gopos.id/kecanduan-main-medsos-berisiko-gangguan-jiwa-ringan/

[4] Change.org, Inti the light, 4 agustus 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hubungi Admin